Rabu, 20 Maret 2013

PENGERTIAN DIMENSI DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DALAM PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Manusia adalah mahluk yang serba terhubung dengan masyarakat, lingkunganya, dirinya sendiri, dan Tuhan. beerling mengemukakan bahwa pada abad ke-20 manusia mengalami krisis total. Disebut demikian karena yang dilanda krisis bukan hanya segi-segi tertenu dari kehidupan seperti krisis ekonomi, krisis energi, dan sebagainya, melainkan yang krisis adalah manusia sendiri. Dalam krisis total manusia mengalami krisis hubungan dengan masyrakat, dengan lingkunganya, dengan dirinya sendiri, dan dengan Tuhannya.
Tidak ada hubungan pengenalan pemahaman dan kemesraan dengan sesama manusia, inilah yang melanda manusia sehingga manusia semakin jauh dari kebahagia’an. Dalam hubugan ini, pendidikan mempunyai peranan penting sebagai wahana untuk mengantar   peserta didik untuk mencapai kebahagia’an, yaitu dengan jalan membantu mereka meningkat kan kualitas hubungannya dengan dirinya, lingkunganya, dan Tuhannya. Untuk menciptakan rasa kebersama’an dengan individu lainnya, rasa menghormati serta menjalin hubungan yang baik, maka diperlukan aturan didalam kehidupan sehari-hari agar terciptanya manusia yang sempurna dan berahklah yang baik, adapun beberapa dimensi yang perludiketahui yatu : dimensi individualisme, dimensi sosialisme, dimensi kesusialan dan dimensi keagama’an (religious).
Dalam penyusunan makalah pada kali ini, kami membagi menjadi beberapa bagian dalam tahapan-tahapan pembahasan dimensi yang akan dibahas kali ini, diantaranya:.
B.     Rumusan masalah
1.                  Mengetaui apa saja dimensi dalam hidup seseorang.
2.                  Bagaimana peran dimensi tersebut bagi kehidupan manusia, agar menjadi manusia yang seutuhnya.
3.                  Factor-faktor apa saja yang mempenagaruhinya.
C.    Tujuan
1.                  Memenuhi tuntutan tugas yang diajukan oleh dosen pengampuh.
2.                  Pengembangan pribadi seseorang agar menjadi manusia seutuhnya.
3.                  Menjadikan individu yang lebih dari  yang sebelumnya.
D.    Metode penelitian
Dalam penyusunan makalah pada kali ini, metode yang kami lakukan ialah dengan menggunakan metode kepustakaan dan pengutipan dari media masa untuk pengembangan lebih lanjut.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Dimensi individual
Kata manusia berasal dari kata manu (Sansekerta) atau mensi (Latin) yang berarti berpikir, berakal budi, atau homo (Latin) yang berarti manusia. Istilah individu berasal dari bahasa Latin, yaitu individum, yang artinya sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi lagi atau satu kesatuan yang terkecil dan terbatas. Secara kodrati, manusia merupakan mahluk monodualis. Artinya selain sebagai mahluk individu, manusia berperan juga sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk individu, manusia merupakan mahluk cipta’an Tuhan yang terdiri atas unsur jasmani (raga) dan rohani (jiwa) yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Jiwa dan raga inilah yang membentuk individu.
Manusia juga diberi kemampuan (akal, pikiran, dan perasa’an) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Disadari atau tidak, setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya). kepribadian seseorang  yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (indevide). Setiap individu bersifat unik (tidak ada tara dan bandingannya) dengan adanya individualitas itu setiap orang memiliki kehendak, perasaan, cita-cita, kecenderungan, semangat, dan daya tahan yang berbeda.

M.J.Lavengeld menyatakan bahwa setiap anak memiliki dorongan untuk mandiri  yang sangat kuat, meskipun disisi lain pada anak terdapat rasa tidak berdaya, sehingga memerlukan pihak lain, (pendidik) yang dapat dijadikan tempat bergantung untuk memberi perlindungan dan bimbingan, sifat-sifat sebagaimana di gambarkan diatas yang secara potensial telah dimiliki sejak lahir perlu ditumbuhkan dikembangkan melalui pendidika agar bisa menjadi kenyata’an. Sebab tanpa dibina melalui pendidikan, benih-benih individualitas yang sangat berharga itu yang memungkinkan terbentuknya suatu kepribadian yang unik, serta kesanggupan untuk memikul tanggung jawab sendiri merupakan ciri yang sangat esensial dari adanya individualitas pada diri manusia.
Dengan kata lain kepribadian seseorang tidak akan terbentuk dengan semestinya, sehingga seseorang tidak memiliki warna kepribadian yang khas sebagai miliknya. Jika terjadi  hal demikian seorang tidak memilki kepribadian yang otonom dan orang seperti ini tidak akan memilki pendirian serta mudah dibawa oleh arus masa, padahal fungsi utama pendidikan adalah membantu peserta didik untuk membentuk keribadianya atau menemukan kemandiriannya sendiri.
1.                  Perkembangan dimensi individual
Demi berkembangnya individual yang lebih baik Pendidikan mengembangkan anak didik mampu menolong dirinya sendiri. Pestalozzi mengungkapkan hal ini dengan istilah/ucapan: Hilfe zur selbathilfe, yang artinya memberi pertolongan agar anak mampu menolong dirinya sendiri. Untuk dapat menolong dirinya sendiri, anak didik perlu mendapatkan berbagai pengalaman di dalam pengembangan konsep, prinsip, generasi, intelek, inisiatif, kreativitas, kehendak, emosi/perasaan, tanggung jawab, keterampilan dan lain sebagainya. Dengan kata lain, anak didik harus mengalami perkembangan dalam kawasan kognitif, afektif dan psikomotor. Sebagai mahluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif, dan hal-hal ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan dan proses belajar.
Di atas telah dikatakan bahwa perwujudan manusia sebagai mahluk individual (pribadi) ini memerlukan berbagai macam pengalaman. Tidaklah dapat mencapai tujuan yang diinginkan, apabila pendidikan terutama hanya memberikan aspek kognitif (pengetahuan) saja sebagai yang sering dikenal dan diberikan oleh para pendidik pada umumnya selama ini. Pendidikan seperti ini disebut bersifat intelektualistik, karena hanya berhubungan dengan segi intelek saja. Pengembangan intelek memang diperlukan, namun tidak boleh melupakan pengembangan aspek-aspek lainnya sebagai yang telah disebutkan di atas.
2.                  Factor dibidang pendidikan
Diantara faktor yang mempengaruhi, berkembangnya individu sangatlah berfariasi, dalam pemaparan kali ini, factor yang ada hanyalah sebagian kecil dari factor-faktor yang lain, Murray menekankan factor yang mempengaruhi individu ialah kebutuhan dan motifasi merupakan penekanan yang cukup berpengaruh. Dipihak lain murrray juga menekankan tuntutan lingkungan (environmental press), tuntutan lingkungan adalah kekuatan-kekuatan dari orang lain yang dapat mengarahkan perilaku seseorang.
Sebagai contoh, melihat seorang teman yang memperoleh nilai terbaik di kelasnya, mungkin dapat menjadi sebuah dorongan yang memacu usaha seorang teman untuk menjadi unggul. Adapun faktor yang mempengaruhi dalam pendidikan antara lain:
Menurut teori nativisme, teori ini menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi di bidang pendidikan yaitu bahwasanya individu lahir ke bumi membawa faktor turunan, yang dibawa sejak lahir yang berasal dari orang tuanya. Teori nativisme pada umumnya mempertahankan konsepsinya yang menunjukan berbagai kesama’an atau kemiripan antara orang tuanya dengan anaknya, sebagai contoh: orang tua yang memiliki keahlian dibidang sains maka akan memiliki keturunan yang sama dengannya.
 Namun teori nativisme tidak memberikan implikasi yang tidak kondusif bagi pendidikan. Teori ini tidak memberikan kemungkinan bagi pendidik dalam upaya mengubah kepribadian peserta didik. Berdasarkan hal itu, peran pendidik dan sekolah sangat kecil sekali dapat dipertimbangan untuk mengubah kepribadian.
Sebab pendidikan dipandang tidak berfungsi untuk mengubah keadaan anak, anak akan tetap sesuai dengan dasar yang dimilikinya. Namun demikian, hal tesebut bertentangan dengan realitas yang sesungguhnya. Karena terbukti sejak dahulu hingga sekarang, para orang tua dan guru, baik dirumah maupun disekolah, mereka mendidik anak/siwa siswinya karena pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dan harus dilakukan dalam rangka membantu anak/siswa agar berkembang sesuai yang diharapkan.

B.     Dimensi kesosialan
Dimensi kesosialan merupakan dimensi  yang pada dasarnya setiap individu diharapkan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya dengan dasar-dasar yang baik agar dalam perkembangan selanjutnya tidak meninggalkan bibit-bibit perpecahan antara satu dengan yang lainnya demi terciptanya masyarakat yang lebih kondusif. Perkembangan dimensi kesosialan dapat kita amati dari berbagai sisi, antara lain:
1.         Perkembangan dimensi kesosialan
Bidang ilmu psikologi dan sosial menganalisis pengaruh lingkungan sosial terhadap prilaku individu maupun kelompok dalam masyarakat, psikologi sosial membantu kita memahami perilaku yang etis dalam ruang lingkup masyarakat yang baik seperti apa. Proses terbentuknya dimensi sosial dan perkembangannya  dalam pendidikan seperti apa, dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul, dengan adanya dorongan untuk bergaul,
setiap orang ingin bertemu sesamanya, Sebagai anggota suatu masyarakat, seseorang berkewajiban untuk berperan dan menyesuaikan diri serta bekerja sama dengan masyarakat.
 Masih banyak contoh-contoh lain yang menunjukan betapa dorongan sosialitas tersebut demikian kuat tanpa orang menyadari sebenarnya ada alasan yang cukup kuat. Seorang filosof Immanuel Kant menyatakan manusia hanya menjadi manusia jika berada diantara manusia, maksudnya tidak ada seorang manusiapun yang dapat hidup seorang diri tanpa membutuhkan orang lain.
2.     Faktor dibidang pendidikan
 Sedemikian istimewanya hingga sekolah telah menjadi salah satu ritus yang harus dijalani orang-orang muda yang hendak mengubah kedudukannya dalam susunan masyarakat. Mudah diduga bahwa jalan pikiran seperti itu secara logis mengikuti satu yang menampung imajinasi mayoritas mengalir menuju sebuah muara, sekolah sebagai kawah tempat agen-agen perubahan dicetak.
Manusia dilahirkan sebagai suku bangsa tertetu, Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat menyangkut nilai-nilai sosial, pola perilaku, organisasi, lembaga kemasyarakatan, lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, yang terjadi secara cepat atau lambat memiliki pengaruh mendasar bagi pendidikan. Masyarakat sipil terdiri dari aneka kekuatan dan gerakan yang membawa dampak perubahan disana sini.
 Esensi dari sekolah adalah pendidikan dan pokok perkara dalam pendidikan adalah belajar. Oleh sebab itu tujuan sekolah terutama adalah menjadikan setiap murid di dalamnya lulus sebagai orang dengan karakter yang siap untuk terus belajar, bukan tenaga-tenaga yang siap pakai untuk kepentingan industri. Dalam arus globalisasi dewasa ini perubahan-perubahan berlangsung dalam tempo yang akan makin sulit diperkirakan. Cakupan perubahan yang ditimbulkan juga akan makin sulit diukur. Pengaruhnya pada setiap individu juga makin mendalam dan tak akan pernah dapat diduga dengan akurat.



C.    Dimensi kesusilaan
Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan lebih  tinggi. Akan tetapi dalam kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat yang pantas jika didalam yang pantas atau sopan  itu misalnya terkandung kejahatan terselubung.
Dimensi kesusilaan disebut juga keputusan yang lebih tinggi. kesusilaan diartikan mencakup etika dan etiket. Etika adalah (persoalan kebaikan)  sedangkan etiket adalah (persoalan kepantasan dan kesopanan). Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila, serta melaksanakannya. Sehingga dikatakan manusia itu makhluk susila. Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai kehidupan. Susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti menjadi kebaikan yang lebih sempurna.
Nilai kehidupan adalah norma yang berlaku dalam masyarakat, moral ialah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan. Dalam moral diajarkan segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan suatu perbuatan yang dinilai buruk yang ditinggalkan.





1.         Faktor dan Perkembangan dimensi kesusilaan
Tahapan perkembangan nilai-nilai yang terkandung dalam dimensi ini memiliki berbagai macam tingkatan, antara lain:
a)   Tingkatan pertama, Anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman, nilai dianggap baik atau buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya.
b)   Tingkatan kedua, Pada tahapan ini, seseorang tidak lagi tergantung pada aturan yang secara mutlak mengaturnya, namun seseorang menjadikan aturan sebagai suatu yang dianggap sebagai aturan yang membuatnya tidak bebas dan selalu mengikuti kehendak pribadi.
c)   Tingkatan ketiga, Pada tingkatan ini seorang anak memasuki umur belasan tahun, dimana mereka mempelihatkan orientasi perbuatan yang dinilai baik.
d)  Tingkatan keempat, Pada tahapan ini, perbuatan baik yang diperlihatkan seseorang bukan hanya dapat diterima, melainkan bertujuan agar ikut mempertahankan aturan dan norma-norma.
e)   Tingkatan kelima, Tingkatan ini merupakan tahapan orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Pada stadium ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial, dengan masyarakat.
Faktor yang mempengahuri pertumbuhan dan perkembangan kesusilaan manusia pada lingkungan keseharian pada dasarnya seseorang diharapkan mampu memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung didalam unsur masyarakat. Pengamalan disini tidak hanya pengamalan semata, namun harus diajarkan dan diresapi sedemikian mungkin sampai terciptanya llingkungan yang harmonis dan itu terus berkelanjutan.
D.    Dimensi keagamaan (religious)
Dimensi keagamaan merupakan dimensi dalam kehidupan manusia, dimana dimensi ini merupakan cara seseorang mendiami alam semesta yang tidak hanya dalam  konteks keseharian saja, namun dalam keseluruhan hidup seseorang yang secara khusus adalah refleksi dari karakter yang kita yakini dan kita rasakan. Setiap agama menawarkan konsepsi yang komprehensif mengenai alam semesta dan kehidupan manusia, agama-agama tersebut secara otomatis mempengaruhi cara hidup penganutnya. Agama menentukan makna hidup bagi  kita, yang kita bicarakan disini tentunya ajaran yang benar, yang membawa keselamatan di dunia dan nanti setelah mati dan membawa keharmonisan antara umat beragama.
Disini islam sebagai jalan hidup telah berdiri kokoh dan setabil, karena Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad, ini adalah firman abadi dari Tuhan yang dinyatakan dalam situasi manusia yang berbeda melalui Nabi dan kitab suci yang berbeda-beda. Stabilitas islam berasal dari kepatuhan hukum Ilahi, yang menentukan aspek kehidupan, hal ini pada umumnya juga diajarkan oleh agama-agama yang lainya, namun  islam tidak bisa disamakan dengan agama-agama yang lainya, dalam hal ini Allah swt berfirman :



 تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ
Yang artinya: Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur-an) untuk menjelaskan segala sesuatu ...” [An-Nahl: 89]
Dengan demikian berarti ruang lingup ajaran islam meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Yang tidak bisa disamakan dengan agama-agama yang lainnya, dan diera globalisasi sekarang ini sudah dibuktikan kebenaran agama islam, dimana mana Al-Qur’an yang menjadi pedoman memberikan kontribusi yang luar biasa bagi umat manusia.
1.         Faktor dan perkembangannya dalam pendidikan
Proses perkembangan agama dalam pendidikan dilatarbelakangi dengan semakin merosotnya moral manusia dalam ruang lingkup keseharian saat ini. Hal inilah yang menjadi tujuan dalam pendidikan, yang bertujuan membina dan mendidik seseorang agar menjadi manusia yang bermoral dan berakhlak mulia.
Ilmu pengetahuan adalah alat yang harus dimiliki manusia, agar mencapai kesempurnaan dirinya, antara lain meliputi berbagai aspek dalam pembentukan kepribadian dibidang pendidikan, dalam hal ini pendidikan berbasis pesantren lah yang menjadi pondasi utama dalam pelaksanaannya namun tidak meninggalkan antar individu dengan lingkungan dalam sistim pengajarannya, proses dan faktor yang mempengaruhi diantaranya:


a.       Pembentukan hati
1)         Pembentukan kata hati nurani.
2)         Pembentukan niat dalam melakukan.
b.      Pembentukan kebiasaan
1)         Kebiasaan berbuat ihsan kepada Allah swt.
2)         Kebiasaan berbuat ihsan kepada sesama manusia,
3)         Kebiasaan berbuat ihsan terhadap makhluk Allah lainnya.
c.       Pembentukan daya jiwa
1)         Pembentukan filsafat atau pandangan hidup yang selaras dan seimbang dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan tuntutan agama.
Dari ketiga pembahasan di atas, dalam hal ini memiliki dua nilai, yaitu:
a.       Nilai Fungsional
Yang dimaksut disini, ialah relevansi bahan dengan kehidupan sehari-hari. Jika bahan itu mengandung kegunaan, atau berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, maka itu berarti memiliki nilai fungsional. Ditinjau dari segi agama, jelas bahwa ajaran itu harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

b.      Nilai Esensial
Maksutnya, ialah nilai hakiki yng diajarkan dalam islam. Bahwa kehidupan yang hakiki itu berlanjut di alam baqa, jadi kehidupan itu tidak berhenti di dunia saja, melainkan terus sampai alam akhirat.  Dengan demikian seluruh nilai-nilai pengajaran islam itu bermuara pada nilai hakiki atau nilai esensial, yang berbentuk nilai pembersian atau pensucian rohani atau jiwa, yang memungkinkan seseorang untuk siap menerima, memahami dan menghayati ajaran agama islam sebagai pandangan hidupnya menuju manusia yang bermoral dan sesuai dengan landasan-landasan agama yang memungkinkannya untuk selalu menjadikan ajaran agama sebagai landasan dalam bersikap yang baik.









BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari uraian yang telah dibahas diatas dapat disimpulkan bahwa, dari keempat dimensi-dimensi terebut, bahwa dimensi tersebut merupakan jiwa manusia yang harus ditata sedemikian rupa, agar dalam pelaksanaan dalam berbuat dan bersikap dalam kesehariannya memiliki aturan dalam pelaksanaannya (sesuai nilai dan moral yang terkandung dalam masyarakat). Dan dari keempat dimensi yang dibahas, ada satu dimensi yang harus menjadi pegangan agar dalam pelaksanaannya sesuai dengan yang diharapkan, yaitu dimensi keagamaan, dalam hal ini menjadi pondasi yang paling utama dan yang paling indah menuju indahnya hidup didunia dan setelah mati nantinya.







DAFTAR PUSTAKA

1.      Agung hartono, Perkembangan peserta didik, rineka cipta, Jakarta, 1995.
2.      Alisuf sabri, Pengantar psikologi umum dan perkembangan, Pedoman ilmu jaya, Jakarta, 1993.
3.      Caroel wade, psikologi, Erlangga, Jakarta, 2007.
4.      Howard S. Friedman, Kepribadian, teori klasik dan riset modern, Erlangga, Jakarta, 2006.
5.      Zakiah darajat, Metodik khusus pengajaran agama islam, bumi aksara, Jakarta, 1995.
6.      John hick, Dimensi kelima menelusuri makna kehidupan, PT raja grafindo persada, Jakarta, 2001.
                        diakses 7 maret 2013
                        diakses 6 maret 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar